Agama Gokil Bukan Agama Tengil Oleh : Aji Setiawan Pada Februari 2017, Donald Trump mengumumkan perintah menolak izin datang dari tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim. Beberapa jam kemudian, sebuah masjid dibakar di Victoria, Texas. Melawan teror ini, komunitas Kristen dan Yahudi datang menawarkan sinagog dan gereja bagi muslim untuk dapat melaksanakan ibadahnya. Anak-anak dari sekolah Katolik datang menjenguk dan masyarakat mengumpulkan donasi untuk membangun masjid yang baru. (“How Jews and Christians in this Texas Town are Helping Muslims Whose Mosque Burned Down”, time.com, 2017). Masih di Amerika, aktivis Muslim juga menggalang dana untuk mendukung pembangunan kembali pemakaman kaum Yahudi yang dirusak di St. Louis. Pesan mereka, “Kerja sama lintas keyakinan diajarkan dalam kitab suci." ”Kami mengirim pesan bahwa kita tidak bersedia memberikan tempat bagi kebencian dan kekerasan.” (“Muslims: Overjoyed as 130k in Donations Pour in for Vandalized St Lou...
Momen Sakral Sumpah Pemuda sebagai Asimilasi Bangsa Indonesia Oleh: Reksy Anggara Menjadi bangsa besar tentu tak mudah. Ada berbagai rintangan dan hambatan yang selalu menanti untuk dilaluinya. Perbedaan pendapat sudah pasti nyata di depan mata. Yang terpenting adalah mengalahkan ego untuk kepentingan bersama. Tak terasa, kini moment yang begitu sakral tersebut telah menginjak usia 90 tahun. Sebuah perjalanan yang tak singkat. Diawali dengan lahirnya berbagai macam organisasi kepemudaan dari seluruh nusantara. Hingga akhirnya mereka sadar, bahwa keadaan seperti ini tak boleh terus terjadi. Pada akhirnya akan memicu konflik di kemudian hari. Lalu berkumpul untuk bersatu di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika. Dan pada akhirnya Sumpah Pemuda telah disepakati. Perbedaan adalah jembatan menuju persatuan. Sejatinya,ikrar yang dibuat oleh pahlawan bangsa pada masa itu bukan untuk sekedar dikenang lalu dibuang. Sumpah yang mengatasnamakan negara yang plural merupakan kesadara...
Bukan Tuk Ditakuti Oleh : Soe ~ "Kalau aku nanti mati," tukas Kartosoewiryo di hadapan para pengikutnya seperti yang pernah dikutip oleh Sarjdono Kartosoewirjo tentang ayahnya itu, "kalian ikuti Pak Natsir." Akhir cerita tentang Sang Imam Darul Islam itu pun, seperti yang kita tahu, berakhir dengan timah panas yang menembus dadanya. Tiga belas tahun ia bergerilya, menyusuri lereng Gunung Rakutak, Cicalengka, Kabupaten Bandung. Ia kecewa dengan perjanjian Renville yang ditandatangani pada 17 Januari 1948. Salah satu butirnya menetapkan garis Van Mook sebagai batas antara Indonesia dan Belanda. Hal itu mengakibatkan Divisi Siliwangi harus mundur ke Jawa Tengah. Namun, Kartosoewiryo lebih memilih bertahan bersama pasukan Hizbullah dan Sabilillah untuk berperang melawan Belanda. Ia kecewa, merasa bahwa pemerintah meninggalkannya. Ia kemudian mengumpulkan berbagai pemimpin Islam se-Jawa Barat di Desa Pangwedusan, Cisayang, Tasikmalaya pada 10 Februari 1948. ...
Komentar
Posting Komentar