Postingan

Menampilkan postingan dengan label Remy Hastian

Refleksi Hari Sumpah Pemuda; Bumi Pertiwi Ia Bunda Kita Bersama

Refleksi Hari Sumpah Pemuda; Bumi Pertiwi Ia Bunda Kita Bersama Oleh : Remy Hastian Perjuangan kokoh itu ditemani langkah-langkah berani untuk membela bumi pertiwi yang kian sengsara. Lambaian elok padi di siang hari mengejawantahkan kesejukan hati para penerus negeri. Dalam berjumpa dengan rembulan, kaum termajinalkan bersaksi, yang setiap malamnya terbangun karena suara bising kendaraan. Gerobak dan jalanan menjadi saksi jika mereka berteriak dalam sanubarinya yang amat dalam, "negeri ini harus lebih baik". Tatkala ku melihat, di sisi lain saudara seperjuangan ada yang menangis, merongrong, mengeluskan tangan ke perutnya seperti ku mengira ada yang salah dengannya. "Lapar" Satu kata yang membuatku terhenyut, membandingkan kesejukan di siang hari tadi, dengan kemakmuran terhampar luas di negeri ku, bumi pertiwi. Saudaraku, kita pernah merasakan keresahan kolektif dalam jangka waktu yang sangat lama, para pendahulu kita pernah mendiri...

Dagelan Kampus Intelektual: Apa Kabar Duhai Pemimpinku?

"Dagelan Kampus Intelektual: Apa Kabar Duhai Pemimpinku ?" Oleh: Remy Hastian Malam sunyi yang dibalut kehangatan, rembulan hari ini tak datang menghampiri. Tikus-tikus itu berdendang membawa makanan basi tak terurus di rongga-rongga pojok jalan. Tatkala kejora pun juga mengumpat, malu terhadap bumi karena takut berbuat dzholim tak mampu menyinari setiap insan meminta. Rembulan pun sama. Mungkinkah ini alasan engkau tidak keluar pada malam ini? Wahai 'Rembulan' yang ku hormati, diri ini sedang menikmati syahdunya malam, sejuknya alam, di pojok bangunan yang tak berujung, di pengkolan jalan penentu nasib para kaum abangan. Bolehkah ku bercerita sedikit untuk memulai pergantian hari menyingsing pagi-- tanda bergantinya hari? Pemimpin di kampus ku, kini telah tiada. Dahulu, saat ku memperjuangkan kebenaran, meneriakkan kedzholiman, dan memberikan secarik pencerdasan kepada khalayak umum yang meminta keadilan harus ditegakkan. Walau, sebagian dari mereka hanya...

Terdiam atau Tergerak?

Gambar
Terdiam atau Tergerak? Oleh: Remy Hastian Awan gelap membuat bisu harapan para kaum terpinggir yang menikmati indahnya senja di kala ramai. Tatkala rembulan datang, tepat sekisaran bulan tegak di malam hari. Pak Endang, perwakilan warga yang menyaksikan langsung Air kiriman itu datang. Tak ada kata. Tak ada frasa. Yang ada, hanya bisu tanda tak terduga. Hari itu, merupakan sebuah bencana banjir dalam siklus 5 tahunan. Pak Aga sebagai Ketua Rukun Warga 03, yang dimana--pada saat itu bencana banjir ini merupakan yang terparah, katanya. "Parah sekali diantara bencana banjir sikuls 5 tahunan, karena memang pada biasanya kita bisa mengantisipasi air naik hingga banjir--sehingga masih ada waktu untuk menyelamatkan sebagian harta yang ada di rumah. Tapi, untuk banjir tahun ini kita tidak bisa memprediksi datangnya air. Tiba-tiba air sudah masuk ke dalam dereran rumah warga dan pergerakan air sangatlah cepat. Seperti Tsunami!." Jangan tersontak kaget, jangan tersontak menol...