HILANG


HILANG

"Dalam sebuah hilang, kau adalah tabah yang sabar menanti indah."
Oleh : Adi Rahzalafna

Seringkali kita harus mengalami hal-hal nahas yang sama sekali tidak kita inginkan itu terjadi pada kita. Kehilangan sesuatu misalnya, lebih-lebih pada hal yang amat kita sayangi, pasti akan sangat sedih, bukan? Ya, begitulah. Ada dua faktor yang menyebabkan hilangnya sesuatu dari kita: Kehendak Tuhan dan kelalaian. 
Manusia memang diberi kebebasan penuh atas dirinya, akan tetapi ia juga diberi batas kemampuan dalam menjaga apa saja yang Tuhan titipkan. Yang terpenting bagaimana perilaku terhadap barang titipan itu, kalau dalam memperlakukan barang titipannya baik, pemiliknya pasti merasa senang dan memungkinkan untuk dititipkannya sesuatu yang lain lagi. Begitu seterusnya, dan begitu sebaliknya.
Pada saat-saat tertentu, kita mungkin merasa sudah sangat baik memperlakukan apa yang dititipkan kepada kita, sehingga ketika hendak dimintai kembali kita merasa enggan untuk melepaskan dan merelakan. Bagaimana ketika diminta paksa? kita merengek sejadi-jadinya layaknya manusia paling galau sedunia.
Aku belajar banyak dari peristiwa kehilangan yang kualami akhir-akhir ini, mulai dari hilangnya dompet, kunci motor, sisir (: obat ganteng), laptop, puisi tulisan tanganmu yang kusatukan pada buku catatan perkuliahan, sampai naskah novel siap rampung yang sialnya lupa kusalin. Semua hilang dalam semalam, dalam sekali pejam. Beruntungnya, keempat kawan yang lain–yang juga menginap di musala kampus–tidak mengalami hal serupa, namun turut merasa iba, dan Alhamdulillah, ruang temu yang kutinggal lelap semalam masih utuh bersama centang biru yang kau susul dengan ucapan selamat pagi paling spesial darimu.
Hilangnya benda-benda di atas bukan perkara yang mudah untuk diusut tuntas, kurangnya fasilitas keamanan meminta diri lebih dalam menarik napas, mengembusnya sebagai isyarat ikhlas. Di setiap sisi telah kucari, di subuh hari tubuh payah berdiri. Mau bagaimana lagi? Kehendak Tuhan yang lahir dari kelalaian.
Kehilangan yang belum pulih diperparah dengan jalan yang kau pilih, kekasih. Agaknya semesta tengah menghukumku, waktu kian meremas tubuhku sampai remuk seluruh ketenanganku. Belum habis kuurus berkas-berkas pentingku yang hilang, sudah kau tambah bekas-bekas luka di atas kepingan jiwaku yang malang. Kau hilang dalam ketenanganmu, aku kau biarkan menggali sendiri kubur kenangan yang pernah kita ciptakan. Begitu kubur ini selesai, kau boleh berziarah kapan pun kau mau, dengan syarat tanpa hujan yang tumpah dari angkasa matamu.
Seiring waktu, luka menyembuhkan dirinya sendiri. Kehilangan memberi pelajaran berharga yang tidak akan pernah kita temukan dari penyesalan yang berlarut-larut. Kuresapi apa yang terjadi, bahwa hilangnya dompet dan isi-isinya—kartu-kartu identitas—sama sekali tidak menghilangkan identitasku sebagai manusia; hilangnya kunci motor, toh masih ada serepnya; hilangnya catatan perkuliahan, toh yang terpenting pengamalan ilmunya; hilangnya barang berharga, kalau ada rezeki toh bisa dibeli kembali; hilangnya naskah, toh bisa ditulis lagi (hitung-hitung melatih mental); hilangnya puisimu, toh yang terpenting bagiku perasaanmu. Emm, hilangnya sisir? Toh sama sekali tidak menghilangkan kegantenganku. Haha.
Kehilangan memberi hikmah, bahwa yang tidak ditakdirkan menjadi milik kita, tidak akan pernah bisa kita miliki. Sekalipun pernah, tidak akan utuh, hanya sebatas menghilangkan rasa penasaranmu. Jangan takut, Tuhan selalu punya cara untuk membahagikan hamba-hamba-Nya: mengembalikannya atau memberi dengan ganti dalam wujud yang lebih indah. Berkompromilah dalam sujud-sujudmu, dalam doa-doamu. Dalam sebuah hilang, kau adalah tabah yang sabar menanti indah.
Emm, Kekasih, setidak-tidaknya aku hanya kehilangan kabarmu dan waktu-waktu indah bersamamu di ruang temu, tanpa kehilangan kesempatan untuk senantiasa mendoakan kebaikan dan keselamatan bagimu. Sebagaimana sajak sepuh Sapardi Djoko Darmono, "Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku tak pernah selesai mendoakan keselamatanmu."
Pergi, hilang, dan ....  Ah, sudahlah...
(20/6)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agama Gokil Bukan Agama Tengil

Momen Sakral Sumpah Pemuda sebagai Asimilasi Bangsa Indonesia

Resume Buku "Robohnya Dakwah di Tangan Da’i"