Valentine lagi…Valentine lagi…!
Valentine lagi…Valentine lagi…!
Oleh: Shoheh Al-Bakasi
Valentine’s Day, sudah tak asing
lagi terdengar di telinga para kaum muda Zaman Now. Tradisi di mana para
kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. “14
Februari, menjadi momentum terindah mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang
melalui setangkai mawar dan sekotak coklat”, ucap kaum muda milenial. Sebagai
pelengkap nuansa romantis, alat kontrasepsi biasa digunakan sebagai pelampiasan
puncak luapan cinta dan sayang. Hal ini tentunya menjadi lumrah tahunan yang
kerap dilakukan oleh para kaum muda.
Sejarah Valentine, dalam sebuah
artikel dijelaskan, versi Valentine’s Day itu beragam. Namun, pada
umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika
dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15
Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah
rangkaian upacara pen-suci-an di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari
pertama (13-14 Februari), dipersembahkannya untuk Dewi Cinta (queen of
feverish love) Juno Februata. Para pemuda hari ini mengundi nama-nama gadis
di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang
namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan
dijadikan objek hiburan. Pada tanggal 15 Februari, mereka meminta perlindungan
dewa LupercaliaI dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda
melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena
anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi subur.
Globalisasi budaya barat terhadap
budaya di negeri ini menjadi suatu ancaman yang serius, khususnya bagi kaum
muda zaman now sebagai generasi penerus bangsa. Haikal Atiq Zamzami,
Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) Jawa Timur
mengungkapkan, dalam kurun 2-3 hari menjelang Valentine’s Day, terjadi lonjakan
pembelian alat kontrasepsi yang signifikan. Mirisnya, momen ini mayoritas
dirayakan oleh generasi muda, termasuk remaja, pelajar, dan mahasiswa.
Menengok sejarah tersebut, kita
dapat memahami bahwasanya tradisi Romawi Kuno ini sangatlah jauh dari moral dan
nilai-nilai religius yang telah diajarkan oleh para kaum cendikiawan terdahulu
dan sampai saat ini. Dalam arus globalisasi saat ini, tentunya kehati-hatian
dalam memahami suatu budaya amat diperhatikan. Sebagai kaum terpelajar yang
terdidik tentunya mengerti dan memahami bahwa Valentine’s Day bukanlah suatu
hari istimewa bagi Kids Zaman Now, melainkan hari di mana menjadi
kewaspadaan terhadap moral dan nilai-nilai kaum muda yang mesti lebih diarahkan
sesuai etika dan moral kehidupan sosial dan beragama.
Komentar
Posting Komentar