Valentine Bukan Kasih Sayang

Valentine Bukan Kasih Sayang
Oleh: Nurkhalifah Tri Septiyani

Valentine adalah suatu peringatan kasih sayang yang jatuh di satu hari bertanggalkan 14 Februari. Seperti yang sudah kita ketahui dari banyak artikel atau tulisan lainnya, di mana sejarah dari Valentine berasal dari ritual kuno kaum Romawi. Adalah ritual kufur yang memuja seks dan dewa kesuburan. Hal ini jelas berbelokan dengan ajaran Islam dan wajar bila Islam mengharamkannya.
"Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka." (H.R Abu Dawud, hasan).
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (Q.S Al-Baqoroh:120).
Meski sudah jelas keharamannya, namun masih banyak orang Islam yang dengan bangga menjadikan Valentine sebagai peringatan besar yang harus dirayakan. Tentunya bagi mereka yang memiliki pasangan. Walaupun banyak juga yang merayakannya dengan orang terkasih seperti orang tua, sahabat, atau yang lainnya. Akan tetapi, jika dilihat dari sejarahnya, Valentine ini ditujukan untuk sepasang wanita dan pria.
Seperti yang sudah dikatakan di atas, Valentine adalah tradisi yang sudah terjadi dari zaman dahulu. Banyak orang mengklaim seseorang itu kolot jika mengikuti tradisi nenek moyang. Karena kebanyakan mereka yang merayakan berasal dari kalangan remaja, berarti tak ada salahnya jika mereka disebut remaja kolot.
Remaja yang cerdas ialah dia yang beridentitas sebagai aset dan tonggak kebangkitan peradaban Islam. Tapi kenyataannya banyak remaja yang menjadi generasi latah peniru budaya barat dengan segala ke-mudhorat-annya. Seakan identitas dirinya telah lumpuh digerogoti maksiat yang ditebar oleh para musuh Islam. Ini adalah salah satu penyakit kronis yang harus kita sembuhkan.
Fakta bahwa kebanyakan dari mereka adalah remaja seolah memberikan kabar gembira kepada musuh-musuh Islam, karena serangkaian serangannya dalam perang pemikiran akan berhasil seiring berjalan waktu. Dengan begitu mereka akan memenangkan pertarungan ini, karena akidah umat Islam sudah rusak divirusi oleh produk kafir yang umat Islam makan sendiri. Naudzubillaah!
Kebanyakan dari kita telah diacak-acak pikirannya hingga berantakan, oleh sebab itu kita perlu berbenah. Otak kita bukanlah daun kering berserakan yang selalu mengikuti angin tak tentu arah. Juga bukan permata yang hanyut terbawa arus air tak terarah.
Valentine bukanlah benih yang harus ditanam agar tumbuh menjadi pucuk kasih sayang. Valentine bukanlah menebar rasa cinta, melainkan menebar kemaksiatan yang berujung dosa dan air mata. Valentine adalah produk kafir yang terbungkus atas nama cinta. Para musuh Islam tak pernah lelah mengkelabui pemikiran umat Islam. Seharusnya kita sebagai yang diserang dapat menggagalkan mereka dengan membangun benteng yang kokoh. Benteng tersebut adalah iman.
Ada yang bilang kalau cinta tidak dapat diukur. Namun faktanya, di hari Valentine cinta dapat diukur hanya dengan setangkai bunga, sebatang cokelat, sepucuk surat, atau bahkan dengan semalam berzina. Miris sekali, di mana seks merajalela atas nama pembuktian cinta dan menjadi tolak ukur yang murahan. Sungguh, cinta tidak semurah itu! Tidak sehina itu!
Apa masih pantas Valentine disebut hari kasih sayang? Melirik fakta di atas, Valentine lebih layak disebut sebagai hari komersialisasi perayaan cinta daripada disebut hari kasih sayang. Banyak fakta di balik hari Valentine. Di US 14 Februari dikenal sebagai ‘The National Condom Week’, jadi semua orang wajib pakai kondom untuk hindari kehamilan, karena mereka merayakan Valentine dengan free sex. Bahkan di negara lainnya, budaya ini dilakukan oleh pasangan yang ditentukan dengan sebuah undian dan tidak saling kenal satu sama lain.
Di Indonesia sendiri banyak yang mengaku bahwa mereka merayakan Valentine bersama kekasih dengan jalan-jalan, makan-makan, ciuman, lalu berseks. Dengan begitu, cokelat, bunga, dan lainnya termasuk kondom laris dicari dan dibeli di pasaran. Hal ini dijadikan sebagai keuntungan pribadi oleh sebagian orang dan mengesampingkan kerugian sebagian orang lainnya. Fakta ini membuat penulis menggelengkan kepala, mungkin juga para pembaca.
Cinta disamarkan nafsu. Terlalu sempit makna cinta jika hanya direalisasikan dengan pacaran, berkasih-kasihan sebelum ada ikatan. Ikatan halal yang diridhoi-Nya, yaitu akad pernikahan. Karena pacaran tidak lebih dari sebatas gerbang menuju perzinahan. Di sini bukan hanya sebab si pria yang punya niatan, melainkan si wanita yang memberi kesempatan, hingga timbulah perbuatan yang berakhir dengan penyesalan. Perbuatan nista yang dilarang, malah dicari dan dilakukan penuh kebebasan. Sungguh memilukan.
Hal ini membuktikan bahwa pembuktian tak senada dengan ucapan. Sebelum melakukan, seringnya sayang-sayangan. Terhipnotis bisikan iblis yang diwakilkan lewat manisnya rayuan. Setelah kejadian, main salah-salahan. Lalu memilih jalan aborsi sampai munculah pembunuhan. Sedang cinta bukanlah nafsu yang selalu menuntut pemenuhan, lalu timbul korban.
Tulisan ini hanyalah sebuah tulisan singkat dari tumpukan pembahasan tentang Valentine. Mulai dari sejarah, budaya, perayaan, dan lain sebagainya. Semoga dengan ini, semakin kecilnya tingkat kejahatan-kejahatan yang dimunculkan dari kegiatan perayaan Valentine. Kalau masih banyak jalan untuk mencintai, kenapa malah memilih jalan yang dimurkai? Lebih baik mencintai secara sejati, bukan?
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (Q.S Ar-Rum:21).
Hukum asalnya cinta memang fithrah, guna mewarnai dunia, merekatkan ukhuwah dan madu dalam keluarga, tapi banyak disalahartikan. (Felix Siauw, 2012)
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, ..." (Q.S Ali 'Imran:14).
 Wallaahu'alam.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agama Gokil Bukan Agama Tengil

Momen Sakral Sumpah Pemuda sebagai Asimilasi Bangsa Indonesia

Resume Buku "Robohnya Dakwah di Tangan Da’i"