Terdiam atau Tergerak?
Terdiam atau Tergerak?
Oleh: Remy Hastian
Awan gelap membuat bisu
harapan para kaum terpinggir yang menikmati indahnya senja di kala ramai. Tatkala
rembulan datang, tepat sekisaran bulan tegak di malam hari. Pak Endang,
perwakilan warga yang menyaksikan langsung Air kiriman itu datang. Tak ada
kata. Tak ada frasa. Yang ada, hanya bisu tanda tak terduga. Hari itu, merupakan
sebuah bencana banjir dalam siklus 5 tahunan. Pak Aga sebagai Ketua Rukun Warga
03, yang dimana--pada saat itu bencana banjir ini merupakan yang terparah,
katanya. "Parah sekali diantara bencana banjir sikuls 5 tahunan, karena
memang pada biasanya kita bisa mengantisipasi air naik hingga banjir--sehingga
masih ada waktu untuk menyelamatkan sebagian harta yang ada di rumah. Tapi,
untuk banjir tahun ini kita tidak bisa memprediksi datangnya air. Tiba-tiba air
sudah masuk ke dalam dereran rumah warga dan pergerakan air sangatlah cepat. Seperti
Tsunami!."
Jangan tersontak kaget,
jangan tersontak menolak. Menolak ketidakpercayaan cerita di atas. Rekan-rekan
sekalian, yang dirahmati oleh Allah Swt. Penulis menyampaikan sebuah pesan di
awal, jika wawancara singkat kepada warga korban banjir di sekitaran Kampung
Pulo, Jakarta Timur. Itu benar adanya. Dan rekan-rekan sekalian, kita pahami
dan resapi segala tindakan yang telah kita lakukan sebagai Mahasiswa, yang
tatkala ketika ditanyakan fungsi kita sebagai apa? Lantas, teringang jawabannya;
Moral force, Iron Stock, Agent of Change, Control Social, ataupun Guardian of
Value.
Fungsi itu telah coba kita
jalani. Tapi, ungkapan mahasiswa kurang 'beradab' dalam menyampaikan aspirasi
itu merupakan sebuah hal yang lucu. Jika memang seperti itu, apa kabar dengan pemuda
yang menculik kaum tua demi merdeka-nya bangsa ini tanpa ada campur tangan penjajah?
Apa kabar mahasiswa yang naik ke gedung DPR/MPR di kala itu demi runtuhnya
rezim--diambang kehancuran? Apakah itu kurang beradab? Apa memang definisi
biadab adalah melindungi kesalahan yang di lakukan kaum elitis di depan umum?
Jika memang itu definisi biadab, bangsa ini tidak akan merdeka tepat tanggal 17
Agustus 1945, mungkin meleset satu hari, satu minggu, satu tahun atau satu kali
lagi di jajah karena waktu yang terlalu lama dengan melihat masa kekuasaan yang
kosong? Jika memang itu pengertian biadab, mungkin pada hari ini--kita masih
merasakan 'sedih'-nya akhir kepengurusan di masa pemerintahan Orde baru pada
saat itu.
Terbahak.
Sebuah makna kata yang
kita lihat, betapa dagelan-nya negeri ini. Jika kita berniat menjalankan fungsi
kita untuk mengkritisi pemerintah dengan sebuah ungkapan simbol (baca; kartu
kuning). Dijadikan bahan cemoohan, dijadikan bahan olok-olok tanda
keberpihakan. Kepala Staff Kepresidenan, Pak Moeldoko menyampaikan prestasi
sang nakhoda yang mengarungi dan memimpin jalannya bahtera ini hingga 4 tahun
lamannya. Terimakasih pak, kau berniat mencoba mencerdaskan kami. Pun, disaat
ada pembicaraan bahwasannya sang nakhoda itu dengan rasa sukarela-nya menyambut
kedatangan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, kajian dan semacamnya.
Terbahak (lagi).
Jika aspal jalanan bisa
menjadi saksi hidup betapa banyak keringat yang membasahi-nya--dirimu pun akan
merasa gundah tanda rasa bersalah wahai nakhoda ulung. Dan jika memang setiap
keluh kesah itu bisa dimaknai sebuah bau, dirimu akan mengetahui betapa menyengat-nya
negeri ini terhadap rasa yang dicium oleh rasa kepedulian terhadap bumi pertiwi
ini, wahai nakhoda ulung.
Tak ada rasa benci kami
terhadapmu wahai bapak, pahami kembali fungsi yang penulis telah sampaikan
diatas. Gerakan ini murni demi membangun negeri, gerakan ini suci demi kesejahteraan
yang hakiki, adapun jika ada yang bergerak atas nama "mahasiswa"
dengan tidak melakukan tujuan gerakan di atas. Catatlah, dan Notulensikanlah itu
hanya pengakuan oknum berbalut almamater, sampah yang mengaku berlian, pencuri
yang menganggap dermawan. Kita lakukan ini, tanda sayang-nya kami kepada
nakhoda yang akan mengantarkan kami menuju singgasana kemakmuran, kesejahteraan
dan keadilan bagi negeri ini.
Seonggok bukti.
Kita kritisi kau
represifkan kami, kita berdemokrasi kau curigai kami, kita mencintai bumi
pertiwi ini setulus hati kau tuduh kami, tanda dianggap intoleransi. Bagaimana
bapak nakhoda? Tatkala diucapkan sumpah itu, mahasiswa yang benar nalar-nya
adalah dia yang menolong tanpa upah, tanpa lelah dan tanpa memikirkan celah.
Untuk apa saya sebagai mahasiswa mengkritisi pemerintah? Yang notabene adalah
pelaksana sebuah tatanan bernegara. Dan pertanyaan kembali, untuk apa saya
melakukan ini semua, jika memang tindakan kita sebagai penyambung lidah rakyat;
menyampaikan aspirasi, memberikan saran dan inovasi, membatu rakyat yang dianggap
hampir mati--jika memang itu semua kita lakukan dengan tujuan membangun bersama
negeri ini jauh lebih baik?
Tahun ini menjadi saksi,
siklus 20 tahunan yang pernah terjadi--apakah terealisasi kembali di tahun ini?
Mahasiswa jangan terdiam, bisu tertelan suara kerasnya ombak menghantam karang.
Mahasiswa jangan meradang, takut bersuara karena diancam sebagai pembrontak dan
sebagainya. Bersatulah, karena Budi Utomo pada tahun 1908, Sumpah Pemuda pada
tahun 1928, gejolak perang ideologi PKI pada tahun 1948 hingga jatuhnya Orde
lama pada tahun 1968 hingga puncak runtuhnya singgasana rezim 'pengawal' pembangunan
pada tahun 1998--tak lain dan tak bukan di awali semangat persatuan untuk
mengawal segala ketidak benaran yang terjadi di bumi pertiwi ini.
Semangat serempak yang di
gaungkan dari timur hingga barat, dari utara sampai selatan, dari penderitaan
hingga kemelaratan dengan pekikan "Hidup Mahasiswa"! Dan semangat
yang menjadi ruh sampai detik ini--sampai kapanpun. Yang senja telah berganti
rembulan, embun telah berganti lahar, subur berganti menjadi tandus, tatkala itu
kita lewati, dan tatkala semua itu hanyalah sebuah cobaan demi tegaknya keadilan
di negeri ini, dengan pekikan " Hidup Rakyat Indonesia!"
Jangan ragu, jangan
risau, jangan takut. Mari kita berjuang, bersatu demi Indonesia yang jauh lebih
baik.
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Waallahu a'lam
bisshowab.
_________________________________________________________________________________
http://googleweblight.com/?lite_url=http://www.aktual.com/komando-kecam-aksi-represif-rezim-jokowi-jk-terhadap-mahasiswa/&ei=4fVyczZm&lc=id-ID&s=1&m=502&host=www.google.co.id&ts=1518336373&sig=AOyes_QffJ7x99FquDiLWqyJGx692G1OKg
http://googleweblight.com/?lite_url=http://nasional.kompas.com/read/2018/02/02/13533421/acungkan-buku-kuning-di-depan-jokowi-ketua-bem-ui-dibawa-paspampres&lc=id-ID&s=1&m=502&host=www.google.co.id&ts=1518337320&sig=AOyes_StIraUtecuB8uPUjL_B3QJQy21Fg
https://www.foodvinebrations.com/single-post/2015/07/29/It%E2%80%99s-all-about-the-bread-whole-grain-home-baking

Komentar
Posting Komentar