Perbandingan Budaya Barat dan Valentine
Yakin gamau Ngerayain Valentine?
Perbandingan Budaya Barat dan Valentine
Oleh: Annisa
Ramadhani
Paham-paham kebudayaan barat
memainkan peranan penting dalam masyarakat, khususnya paham-paham perubahan dan
kemajuan, yang kini menyeludup ke dalam perbendaharaan fikiran dan renungan
masyarakat kita. ( Syed Muhammad Naquib al-attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin,
hal 22). Program westernisasi dunia
bukan sekedar tuduhan orang-orang anti barat. Program ini semakin jelas terjadi
dengan polemik perubahan kebudayaan setempat yang sudah mulai pudar bahkan
hilang. Barat adalah alam pikiran pandangan hidup, sama hal nya dengan islam,
kristen, hindu yang juga merupakan pandangan hidup (worldview). Meski memiliki
kesamaan masing-masing memiliki karkater dan elemennya sendiri-sendiri. Jika
umat islam ingin maju seperti Barat maka ia akan menjadi seperti barat dan bukan
seperti islam. Begitupun ketika umat kristen ingin maju seperti barat maka ia
bukan lagi kristen tetapi barat. Polemik kebudayaan barat ini semakin
merajalela dengan masuknya ini kedalam berbagai aspek dan mendominasi
perekonomian.
Valentine's Day merupakan
hasil adaptasi dari budaya luar yang kini mulai diterapkan di Indonesia.
Menurut Basundoro (Jawa Pos, 2006, 13 Februari: 31) Valentine's Day adalah
tradisi Barat dan menyebar di Indonesia sekitar tahun 1980, seiring dengan makin
mudahnya masyarakat Indonesia memperoleh berbagai macam informasi melalui
berbagai macam media. Valentine's Day adalah hari kasih sayang yang
jatuh pada setiap tanggal 14 Februari. Pada hari itu sebagian orang saling
mengucapkan “Selamat hari Valentine”, berkirim kartu dan bunga, saling bertukar
pasangan, saling curhat,menyatakan sayang atau cinta pada hari ini. Berbagai
tempat hiburan bermula dari diskotik (club malam), hotel-hotel, organisasi-
organisasi maupun kelompok-kelompok kecil; ramai yang berlomba-lomba menawarkan
acara untuk merayakan Valentine. Jutaan remaja di seluruh dunia pun menantinya.
Banyak perilaku masyarakat Indonesia yang dipengaruhi oleh budaya barat. Pada
perayaan ini pun banyak dijadikan ajang untuk berbisnis. Banyak coklat yang
diproduksi.
Menurut Dr Andik, coklat mengandung zat yang disebut
Phenyletilamine atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual. Kandungan zat
yang ada didalam coklat ini disinyalir sebagai alat untuk melancarkan perayaan
valentine. Remaja berlomba-lomba berburu kado spesial yang unik dan menarik
agar perayaan Valentine Day mempunyai kesan yang mendalam bagi dirinya dan pasangannya. Barang-barang seperti Bunga mawar, coklat dalam kotak berbentuk hati, perhiasan, CD lagu
romantis, permen, hingga kartu valentine, menjadi barang-barang yang laris dalam
perayaan ini. Pada masyarakat Amerika, dorongan
seks itu dihubungkan dengan parfum, bunga,coklat, bunyi musik tertenu,
kata-kata dan nada atau muka tertentu
dan keadaan sosial yang bermacam-macam yang mengandung arti seksual sampai
batas tertentu.(J. William Goode, Sosiologi Keluarga, Hal 26)
Tidak hanya menjadikan remaja memiliki sifat konsumenrisme dan
hedonisme berlebihan. Perayaan valentine juga membwa dampak negatif lainnya, Tiga
bulan atau empat bulan setelah perayaan hari kasih sayang, banyak remaja datang
ke WCC meminta konseling. Mereka datang bercerita, kekasihnya tidak mau
bertanggung jawab setelah berhubungan badan (Direktur Eksekutif WCC Yeni
Roslaini Izi). Hubungan seksual pranikah itu banyak terjadi pada perayaan Valentine. Modus yang dilakukan pada saat pacaran
tersebut, sang cowok meminta kekasihnya membuktikan bahwa dia mencintai dirinya
dengan memberikan izin berhubungan badan, Namun setelah hubungan terjadi, sang
cowok tidak mau bertanggungjawab dengan berbagai dalih.
Menurut Yeni, Divisi Pendampingan
WCC Palembang telah melakukan pendampingan
Terjasi 279 kasus, yang terdiri dari: kekerasan seksual berupa perkosaan
dan pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan dalam
pacaran (KDP), perdagangan perempuan dan anak dan beragam bentuk kekerasan
lainnya. kekerasan terhadap perempuan menempati posisi ketiga dengan jumlah 51
kasus atau laporan. Peringkat pertama kekerasan seksual sebanyak 111 kasus
kemudian KDRT sebanyak 74 kasus.
Persoalan mendasar umat saat ini
adalah keliru memandang kehidupan. Individu yang memandang kehidupan keliru
berdampak kepada tatanan kehidupan bermasyarakat yang keliru. ( Adnin
Hamas,2012:Pengantar Misykat). Polemik persoalan perayaan hari valentine mulai
menggerus pemikiran anak-anak bangsa. Budaya barat yang dianggap sebagai budaya
yang modern dan maju dijadikan dalih diterapkan nya perayaan tersebut di
indonesia. Sifat konsumerisme, hedonisme yang berlebihan akan berdampak besar
bagi kehidupan masyarakat dalam bermasyarakat. Dari sifat-sifat ini kemudian
akan muncul sifat individualis yang akhirnya menjauhkan manusia dari fitrahnya
sebagai mahluk sosial. Begitupun kejahatan sesksual yang terjadi ketika perayaan
tersebut.
Hal tersebut sangat memilukkan,
perilaku tersebut sudah menyalahi nilai dan moral bangsa. Meskipun saat ini
belum ada hukum secara tertulis yang melarang perayaan ini, namun hukum dan
moralitas memiliki hubungan yang sangat erat. Hukum harus diukur dengan moral,
namun disisi lain keberadaan moral hanyalah sebuah angan jika tidak ada hukum
tegas dan tertulis yang mengatur. Dengan begitu moral lebih unggul, dan
pernyataan bahwa hari valentine merupakan produk barat yang jauh meninggalkan
nilai moralitas menjelaskan bahwa perayaan ini tidak layak di laksanakan di
Indonesia.
Komentar
Posting Komentar