Bukan Tuk Ditakuti Oleh : Soe ~ "Kalau aku nanti mati," tukas Kartosoewiryo di hadapan para pengikutnya seperti yang pernah dikutip oleh Sarjdono Kartosoewirjo tentang ayahnya itu, "kalian ikuti Pak Natsir." Akhir cerita tentang Sang Imam Darul Islam itu pun, seperti yang kita tahu, berakhir dengan timah panas yang menembus dadanya. Tiga belas tahun ia bergerilya, menyusuri lereng Gunung Rakutak, Cicalengka, Kabupaten Bandung. Ia kecewa dengan perjanjian Renville yang ditandatangani pada 17 Januari 1948. Salah satu butirnya menetapkan garis Van Mook sebagai batas antara Indonesia dan Belanda. Hal itu mengakibatkan Divisi Siliwangi harus mundur ke Jawa Tengah. Namun, Kartosoewiryo lebih memilih bertahan bersama pasukan Hizbullah dan Sabilillah untuk berperang melawan Belanda. Ia kecewa, merasa bahwa pemerintah meninggalkannya. Ia kemudian mengumpulkan berbagai pemimpin Islam se-Jawa Barat di Desa Pangwedusan, Cisayang, Tasikmalaya pada 10 Februari 1948. ...
Momen Sakral Sumpah Pemuda sebagai Asimilasi Bangsa Indonesia Oleh: Reksy Anggara Menjadi bangsa besar tentu tak mudah. Ada berbagai rintangan dan hambatan yang selalu menanti untuk dilaluinya. Perbedaan pendapat sudah pasti nyata di depan mata. Yang terpenting adalah mengalahkan ego untuk kepentingan bersama. Tak terasa, kini moment yang begitu sakral tersebut telah menginjak usia 90 tahun. Sebuah perjalanan yang tak singkat. Diawali dengan lahirnya berbagai macam organisasi kepemudaan dari seluruh nusantara. Hingga akhirnya mereka sadar, bahwa keadaan seperti ini tak boleh terus terjadi. Pada akhirnya akan memicu konflik di kemudian hari. Lalu berkumpul untuk bersatu di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika. Dan pada akhirnya Sumpah Pemuda telah disepakati. Perbedaan adalah jembatan menuju persatuan. Sejatinya,ikrar yang dibuat oleh pahlawan bangsa pada masa itu bukan untuk sekedar dikenang lalu dibuang. Sumpah yang mengatasnamakan negara yang plural merupakan kesadara...
Cukup Tau Karya : Salsabina Ramadhani Kesedihanku terlalu dalam, sehingga aku tak mampu berkisah Kesedihanku terlalu dalam, sehingga air mata pun tak mau tercurah Kesedihanku terlalu dalam, menatap orangpun aku tak kuasa Kesedihanku semakin dalam, kepada siapapun ku tak ingin berbagi cerita Teman baikku saja berpaling muka kepadaku Semakin dalam rasa perih Mengiris hati, menghasilkan duka Tenggelam dalam kegelisahan jiwa Lalu, Semakin dalam aku berpikir Tak ada yang mampu membendung kesedihanku Tak ada yang mampu menjadi pendengar terbaikku Tak ada pemerhati diriku Tak ada perlakuan yang sama terhadapku Karena .. Aku bukan seorang penceria Aku juga bukan pengkisah terindah Aku bukan seorang yang terbaik di mata manusia Tak ada siapapun mampu kuharapkan Kukatakan kepada diriku “ Cukup Tau” Saat ini diriku sedang dibimbing untuk ikhlas dan tulus Demi Tuhanku, Allah lah satu satunya harapanku - Inf...
Komentar
Posting Komentar